jump to navigation

Jejak Langkah Dua Kaki beserta Satu Anggukan October 30, 2009

Posted by dirwid in Bersepi ria, Jejak ke-lima, Sedih.
add a comment

Terbuai lepas, aku terhenyak di sebuah dimensi
yang seperti dunia fantasi saja
karna menyeruak suara berisi kata-kata
lambungkan pikiran ke jauh angkasa

Setengah tak sangka, setengah tidur kali
kutusuk-tusuk mataku, aku sadar kok
tapi aliran nada yang mencengangkan
seakan meledakkan bom teradiatif skalipun

Kupikir ini alam bawah sadarku
karna yang di hadapan bukan sekadar bayangan
itu berwujud, dan itu menggertak dadaku
dengan jarum-jarum terlatih, mencoba meneguhkan batinku

Apa aku pantas tuk dihukum seperti itu…

Apa tidak terlalu rendah?

Menghujam keheningan kusibak udara biasa
ah, seperti omong melompong, tapi aku berpikir
tak pantas jua aku begini, hey, dia lebih tinggi!
bukan takut, tapi dia sudah mencicipi apa yang blum kujamah

Kurenung, renung, renung…

Kuaduk dalam blender alam kesayanganku
sembari menyedapkan dengan bumbu-bumbu andalan : imaji dan rasa
logika tak luput; kucampur saja
jadilah seonggok benda bertahta kebijakan
lalu kumakan, dan berharap ‘kan meracuni hatiku

Sambil menunggu reaksinya, aku ingat-ingat resep terdahulu
resep sesaji yang buruk rupa, ah, gagal lah hasilnya
muka ini harus kucabut, biar tak ada yang menyangsikan
wajah dan hati bisa berjarak langit-bumi

Sembilan-puluh-tiga abad yang lalu, aku terlahir di tujuh-belas kilometer dari pantai
tiba-tiba sudah mengapung di Laut Mut’aj, janggal kata orang
setelah dua-belas melangkah, aku terjatuh lalu tersungkur pingsan

Mata mengerjap, seketika abad ke empat
aku gembira, aku lincah, aku gembul mulai menyusut
panas api tlah menguapkan perut buncitku, yasudahlahya…
yang penting aku cerdas, aku berani, aku berhasil

Abad ke enam, dimulailah invasi negeri tetangga
mereka congkak, mereka sombong, mereka culik aku
aku kritis, aku mengiris, aku menggigit nyeri kata mereka
yasudahlahya, aku dilempar dikurung sel

Aku di bui, aku menyerah
Buat apa ya melolong seperti mereka di kamar sebelah?
Sudahlah, HENTIKAN!! Perbuatan kalian sia!
Aku diam, aku murung, aku membungkam permanen

Berabad-abad orang berlalu lalang di hadapku
acuhkan, tidak, menatap dengan mata elang
sepertinya ada yang mengenggam tomat, tapi kenapa tak melempariku?
oh, mungkin karna dia tlah bosan menghinaku spanjang waktu

Lihatlah aku, yang serentak diberi kunci kehidupan
siapa duga, ada saja yang iba dengan butiran-butian merah yang menutupi sluruh kujur tubuhku
mereka bertindak atas nama keadilan, eh?
oke, aku sih nurut saja

Aku diangkat, dituntun perlahan, dan diberi bekal
“Pergilah ke Kerajaan Syurga, di sanalah sebaik-baiknya tempat.”
Aku menelan khidmat tiap huruf yang dilontarkan dia
dan banyak orang, ya, mereka yang sukses bangkit dari jurang yang baru saja kudaki

Abad ke 10, waktu saat ini
aku mengabadikan perjalanan waktuku
merangkainya seelok mungkin
di sini, makin banyak orang baik
tapi yang bejat sudah tak terhingga

Mendapati suatu pernyataan tak diduga
siapa yang tahu,
jika aku lah sang penyair fenomenal
suka memainkan nada minor penyayat sedih
berjuang menghancurkan sang diktaktor penyuka nada mayor

“Seseorang yang berselera minor, biasanya lebih bijak dalam mengaransemen harmoni terindah, karna tidak melulu memainkan suara mayor.”

Memerintah Waktu October 25, 2009

Posted by dirwid in Beramai ria, Bersepi ria, Jejak ke-tujuh, keluarga, Sedih.
add a comment

Dari kejauhan
Perlahan pergi…
Aku…
…sendiri…
…lagi

Berbalik badan, masuk ke dalam
Merenung kah? Tidak juga
Aku hilang kesadaran, terlelap pulas
Entah mengapa, pertemuan hari ini bagai mimpi
Tak membekaskan jejak, kecuali makanan dan seikat petuah

Aku berjalan bersama,
makan bersama,
bersama yang sesaat
Aku ingin sedih

Kukunci dimensiku rapat-rapat
Biarlah waktu terbirit-birit di luar sana
Namun, tak kuizinkan dia mengajakkan turut serta
Aku ingin menjegalnya hingga jatuh
Kalau bisa, memaksanya berjalan mundur

Tidak
Tuhan takkan membiarkanku bertindak begini
Sesungguhnya,
aku bersyukur padamu, wahai Zat Yang Agung

Tengah Malam October 25, 2009

Posted by dirwid in Beramai ria, Gembira, Jejak ke-enam, NK3, Sedih, sepuluh-tiga.
2 comments

Malam gelap

Di tengahnya tepat

Tersebut hawa yang terjaga

Merangkai kata, seperti biasa

Dia cukup gundah

Ingin ia mengukir langkah demi langkahnya dengan pasti

Ah, namun sibuk cukup mengganggu

Padahal maunya sih terus-terusan

Nah loh, ini sudah 1 jam

Harus siap siaga

Bersiap tuk merangkai kelanjutan

Terlihat hawa makin memfokuskan pikirannya

ndcasnvwcmejkcg;mwvcomcwlcmw,cx

wacoivhnwlnqmxiowemvcicnwm

cwugbwnhhewjkjdxnsfmvevjw,c

wrcnjwemdxz,xaz.S.Q/A.Q;E,

Selesai, si hawa kelelahan

Namun aku baru mau berkisah…

Langkah ke-24, dari kepagian

Terburu diserempet waktu, aku menenggelamkan tubuh ke dalam keruh air

Yuks, tidak steril!

Namun komando pelatih berkata lain, hiks

Kesiangan, langsung ke tempat biasa

Semua orang juga tahu, kau pun jua

Tempat mangkal biasa, tempat asik itu loh

Iya, asik banget

Beralaskan jepit, berbusana santai

Berusaha menyerap bahasa asing, euh, letih

Kemudian bersapa dengan kawan lawas, “Hei, Fude!”

Tak lama, badai menerjang dan mengamuk tak hentinya

Hingga kesorean, kelewat yang wajib lagi!

Duh, aku mahluk terlaknat!

Ampun, Tuhan!

Lalu ambruk di atas dipan

Hingga kepetangan

Bermain di atas, melayang

Menghentak karton, euh, tewas

Dadah, mau terlelap dan bersiaga

Karna esok datang tamu agung kemari 😀